Kepergian Setelah Mengabdi
Oleh: Abdurrahman Wahid
Seorang lagi dari deretan
tokoh-tokoh kita telah meninggalkan lingkungan, setelah lama menderita sakit:
Dr. Nurcholish Madjid.
Banyak sekali orang yang merasa
kehilangan dengan kepergiannya pada usia 66 tahun itu. Padahal, itu adalah usia
yang mencerminkan kematangan hidup, terlebih-lebih pada masa penuh
kesalahpahaman dan salah pengertian satu sama lain, terkadang ”diwamai” oleh
ledakan bom dan lemparan granat.
Ada perbedaan faham yang fundamental
antarsesama warga gerakan Islam dan hampir selalu berakhir pada hilangnya
toleransi dalam kehidupan kita sebagai bangsa.
Nurcholish Madjid atau Cak Nur tetap
konsisten dengan gaya hidupnya di tengah-tengah masyarakat. Ia tetap
mempergunakan cara-cara menolak pemakaian kekerasan. Ia dimaki-maki oleh begitu
banyak orang, sehingga sangat lucu melihat bagaimana ia dimaki-maki dan
diumpat-umpat untuk berbagai ”dosa” yang tidak pemah dilakukannya. Bahkan,
setelah ia meninggal pun, masih ada orang yang menganggapnya ia melakukan
hal-hal yang tidak pemah dikerjakannya selama hidup.
Cercaan dan umpatan seperti itu
sudah menjadi hal yang biasa di telinganya sewaktu ia hidup. Bahkan, setelah
meninggal, masih ada yang—karena kekerdilan jiwa—mengatakan secara lisan bahwa
ia ”seharusnya sudah bertobat”. Padahal, yang seharusnya melakukan hal itu
bukanlah Cak Nur, melainkan orang itu sendiri.
Bukankah kitab suci Al Quran memuat
salah satu sifat yang mulia adalah kemampuan memberikan maaf kepada siapa pun
untuk kesalahan apa pun. Di sinilah terletak kebesaran Cak Nur. Ia berhasil
mendidik kaum Muslimin pada umumnya bahwa sifat yang seperti itulah yang harus
dikembangkan terus dalam kehidupan mereka.
Apakah artinya ini? Artinya, bahwa
kita semua harus mengikuti teladan yang diperlihatkannya itu. Bahwa hampir
seluruh kaum Muslimin di negeri ini bersikap demikian, itu adalah bukti bahwa
Cak Nur telah berhasil dengan pendidikannya itu. Ia yang lahir di Desa
Mojoduwur, Kecamatan Bareng, di Jombang, Jawa Timur, itu akhimya menjadi contoh
bagi semua warga bangsa yang berjumlah lebih dari 210 juta jiwa itu (menurut
hitungan Prof Dr Prijono Tjiptoherijanto)
Kita belum lagi berbicara tentang
Islam sebagai bidang kajian, tempat Cak Nur menghabiskan umur. Sebagai ilmuwan,
ia tidak mau berkompromi dengan politik sama sekali. Orang boleh berbicara di
sinilah terletak kekuatan Cak Nur, atau sebaliknya menganggap itulah titik
lemahnya.
Bagi penulis, hal itu tidak penting
benar karena ia tidak menjadi besar atau kecil dalam hal ini. Ia akan tetap
diakui sebagai salah satu pemegang otoritas studi keislaman (Islamic studies)
di negeri kita.
Tentu saja ia punya sederet
kesalahan karena ia adalah seorang anak manusia, tetapi kesalahan-kesalahan itu
tidaklah memudarkan namanya (atau menurunkan nilai dirinya).
Ia adalah orang besar, karena ia
memang demikian. Kini ia telah tiada, dan menjadi kewajiban kita untuk
mengembangkan Nurcholish-Nurcholish baru. Hanya dengan cara demikian kita patut
disebut pengikut Cak Nur di masa hidupnya.
Orang-orang lain, termasuk mereka
dari ”garis kekerasan”, adalah orang yang ditinggalkan oleh perkembangan Islam,
dan akan pudar dengan sendirinya ditelan masa.
Jakarta, 29 Agustus 2005
Sumber: Mbah Google
Tidak ada komentar:
Posting Komentar