Jejak Gus Dur di Sulewesi Selatan
Oleh
Drs KH Abdurrahman
--Selama
menjadi Ketua Umum PBNU selama 15 tahun, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) banyak
mengunjungi daerah, termasuk di wilayah Sulawesi Selatan. Pada akhir tahun
1985, Gus Dur diundang berceramah oleh Rektor IKIP Makassar, Gubernur Prof. Dr.
H. A. Amiruddin.
Waktu
itu, Gus Dur berangkat ke IKIP dan dijamu sarapan pagi. Di meja makan, sambil
menunggu penjemput dari IKIP, terjadi diskusi antara Gus Dur dengan Gubernur H.
A. Amiruddin terkait berbagai hal yang dihadapi bangsa Indonesia. Setelah
penjemput dari IKIP datang, Gubernur mengantar Gus Dur ke bawah dijemput oleh
Wagub HZB Palaguna. Gubernur A. Ahmad Amiruddin meminta HZB Palaguna
mendampingi Gus Dur di IKIP, sambil berkata “Dampingi, dia orang pintar”.
Di
atas mobil dalam perjalanan menuju IKIP, Gus Dur bertanya, “Tema apa yang akan
saya bawakan dalam ceramaah nanti ?”.“Transformasi sosial menuju masa depan
Indonesia”, jawab saya. Sampai di IKIP, Gus Dur dijemput oleh Rektor IKIP Prof.
Dr. HP. Parawangsah dirumah jabatan. Setelah minum teh, Gus Dur diantar ke
gedung Serba Guna IKIP, disambut oleh Civitas Akademika IKIP dan ratusan
mahasiswa yang memenuhi aula gedung Serba Guna.
Setelah
pidato penyambutan Rektor IKIP, Gus Dur dipersilakan ke mimbar. Pada awal
ceramahnya, mahasiswa menyambut dengan suara “Uuuuuuh”, tetapi pada pertengahan
ceramahnya, hadirin mulai diam dan tenang. Menjelang akhir ceramahnya, hampir
setiap kalimatnya disambut dengan tepuk tangan yang meriah, dan menutup
ceramahnya disambut dengan tepuk tangan yang panjang sambil hadirin berdiri
mengantarkan Gus Dur meninggalkan tempat upacara.
Gus
Dur Ziarah Makam di Wajo
Akhir
Januari 1989 pukul 08.00 pagi, menaiki mobil mini bus DPRD Sulsel, kami berangkat
ke Wajo untuk berziarah ke makam Sayyid Jamaluddin al Akbari al Husaini yang
wafat pada tahun 1310 dimakamkan berdampingan dengan Raja Tosora Lamaddusila di
Tosora (situs purbakala), Sayyid Jamaluddin adalah nenek para wali songo
di Jawa. Menurut Gus Dur, ia mendapat pesan dari neneknya Hadratus Syekh KH.
Hasyim Asy’ari, supaya menziarahi 27 makam Wali di Indonesia.
Sekitar
pukul 11.00 kami tiba disuatu desa sekitar 4 Km sebelum sampai ke lokasi makam,
jembatan desa terputus yang tidak bisa dilalui kendaraan. Gus Dur mengatakan,
“Rupanya Almarhum belum berkenan diziarahi.” Gus Dur berceritera bahwa juga
pernah ada makam seorang Wali di Semarang, 5 kali baru bisa tembus mencapai
makam wali tersebut. Akhirnya, Gus Dur meminta kepada yang hadir untuk mendoakan
di sini saja sambil menunjuk jembatan yang putus.
Kami
yang mengantar Gus Dur, antara lain Sayyid Abu Bakar Alatas, Idris Nashir,
Muhamad Abduh, Pengurus Cabang NU Wajo berkumpul ditengah persawaahan duduk
melingkar sambil berdoa dan mengirimkan bacaan Al Fatihah. Doa dipimpin oleh
Sayyid Abu Bakar Alatas. Gus Dur berjanji akan datang lagi secara incognito
(tidak resmi). Belakangan saya ketahui telah datang secara diam-diam dan
berdua dengan Habib Abubakar Alatas, Gus Dur telah menziarahi beberapa makam
wali di Sulsel seperti makam Syech Yusuf al Khalawatiyah al Makassari di Gowa,
Makam Syekh Jamaluddin al Akbari al Husaini di Tosora Kabupaten Wajo, makam
Syekh Datok Ri Bandang dan Makam Pangerang Diponegoro di Makassar, makam Tuan
Bojodi Kajuara Bone, makam Kareng Lolo Bayo Sanrabone Takalar.
Pada
suatu waktu saya menemui Gus Dur di kantor PBNU Jalan Kramat Raya, Jakarta
Pusat, menyampaikan niat saya untuk menyelenggarakan Haul dan tahlilan untuk
almarhum Sayyid Jamaluddin Al Akbari al Huseini dan Syech Yusuf Al Halwati di
Gowa. Gus Dur mendukung dan bersedia mencarikan sponsor. Niat untuk mengadakan
Haul dan tahlilan ini kemudian saya konsultasikan pada M. Parawansyah,
Sekretaris Provinsi Sulsel di Kantor Gubernur.
Dari
almarhum KHS Jamaluddin Puang Ramma, saya mendapat informasi bahwa 42 orang
ulama dan kiai dari Jawa Timur setelah memperoleh informasi dari Gus Dur,
dengan mencharter pesawat terbang Fokker 28 mereka ke Makassar menginap di
Syahid Hotel datang memui beliau di jalan Baji Bicara 7 Makassar. Mereka semua
mengaku sebagai keturunan Sayyid Jamaluddin al Akbari al Huseini nenek para
Wali Songo di Jawa. Mereka bermaksud menziarahi makam beliau di Tosora.
Drs.
KH. Abdurrahman adalah Ketua PWNU Sulsel 1986 –
1990 dan 1990 – 1995. Ia dikenal dengan nama Abdurrahman ‘Bola Dunia”, karena
memiliki rumah dengan pagar Bola Dunia sebagaimana Lambang Nahdlatul Ulama. (Andy
Muhammad Idris/Anam)
Rabu, 17/12/2014 03:01
Tidak ada komentar:
Posting Komentar