Senin, 05 Januari 2015

Berkuasa dan Harus memimpin



Berkuasa dan Harus memimpin
Oleh Abdurrahman Wahid

Ketua Umum PIB Syahrir membuat tulisan menarik dalam
sebuah media. Dalam kesimpulan penulis, dalam karya­
nya itu, Syahrir menyebutkan ada orang berkuasa tetapi
tidak memimpin. Dengan tepat, Syahrir menunjukkan pada kita
sebagai bangsa yang sedang porak­poranda, karena tidak adanya
kepemimpinan. Buktinya, krisis multi­dimensi yang sedang kita
hadapi dewasa ini, sama sekali tidak mendapatkan pemecahan
–kalau tidak dikatakan justru diperparah oleh ulah para pemim­
pin kita sendiri—. Ada pejabat yang menganggap TKI (Tenaga
Kerja Indonesia) di Malaysia sebagai persoalan pemerintah dae­
rah, padahal seluruh peraturan yang menyangkut diri mereka
dibuat oleh pemerintah pusat. Demikian juga pejabat lain yang
tidak mau meninggalkan jabatan, walaupun telah diputuskan
oleh Pengadilan Negeri di Jakarta sebagai pihak yang bersalah.
Alasannya, karena menunggu putusan Pengadilan Tinggi. Bukan­
kah ini berarti sebuah pengakuan, bahwa sistem pengadilan kita
bekerja di bawah pengaruh mafia peradilan? Alangkah tragisnya
keadaan kita saat ini?

Dengan tepat pula, Syahrir menunjuk kepada pemerin­
tahan kita yang memiliki sejumlah orang berkuasa, namun tidak
sanggup memimpin. Bahkan, aparat penegak hukum kita cende­
rung melanggar konstitusi. Pertanyaan Klinik Hukum Merdeka,
adakah DPR/MPR kita dewasa ini legal atau tidak, mengingat
baru 60% suara hasil pemilihan umum (Pemilu) tahun 1999
yang lalu dihitung, namun pemerintah telah mengumumkan Su­
rat Keputusan (SK) Presiden, mengenai komposisi DPR/MPR
—tidak dijawab hingga saat ini oleh Mahkamah Agung (MA). Be­
gitu juga, pertanyaan penulis kepada MA, apakah Maklumat Ke­
adaan Bahaya yang dikeluarkan penulis sebagai Presiden tanggal
21­23 Juli 2001 merupakan tindakan legal atau illegal berdasar­
kan konstitusi, juga tidak mendapatkan jawaban.

Ditambah lagi, bahwa showroom mobil termahal (mewah)
di dunia saat ini berada di halaman gedung DPR, yang dipenuhi
oleh mobil para anggotanya, bahkan tanpa mengindahkan ba­
tas besarnya kubik silinder (cc) yang dimiliki kendaraan terse­
but. Keluhan birokrasi pemerintahan dan kejengkelan rakyat
sama sekali tidak diperhatikan. DPR tidak lagi memperhatikan
kepentingan rakyat, melainkan hanya sibuk dengan urusan mere­
ka sendiri tampak jelas di mata kita. Dengan kata lain, para ang­
gota DPR/MPR kita tengah menikmati kekuasaan yang mereka
peroleh tanpa memperhatikan sah atau tidaknya kekuasaan me­
reka itu. Dengan demikian, pengamatan Syahrir itu juga berlaku
bagi para anggota DPR/MPR kita dewasa ini.

Masalahnya adalah persoalan klasik yang harus kita hadapi
sekarang ini. Kepercayaaan (trust) masyarakat kepada sistem
pemerintahan kita dewasa ini menjadi sesuatu yang sangat mem­
prihatinkan. KKN, terutama dalam bentuk korupsi, kini tampak
nyata sudah tak terkendali lagi. Benarlah kata alm. Mahbub Junai­
di: bahwa nanti kita harus membayar pajak karena mengantuk,
seolah­olah sebuah kenyataan yang hidup. Runtuhnya kekuasaan
Wangsa Syailendra (pembangun candi Borobudur) dan kerajaan
Majapahit (untuk membiayai perang dan perluasan kawasan)
—misalnya, akhirnya runtuh karena keduanya hanya sekadar
berkuasa tetapi tidak memimpin. Kekuasaan wangsa Syailendra
dianggap tidak ada oleh kaum Hindu­Budha yang membangun
candi Prambanan yang di kemudian hari hijrah ke Kediri di
bawah Darmawangsa dan mengingkari kekuasaan wangsa terse­
but. Kekuasaan Majapahit, yang semula memeluk agama Hindu­
Budha/Bhairawa, akhirnya juga hilang tanpa dapat ditolong lagi
karena ketidakmampuan mempertahankan keadaan di hadapan
tantangan kaum muslimin, terutama di bawah pimpinan Sayyid
Jamaluddin Husaini dalam abad ke­15 Masehi.


Dengan mengacu kepada ketidakmampuan pemerintah
yang ada untuk memelihara kepercayaan (trust) rakyat tersebut,
jelas bagi kita adanya kewajiban besar untuk berpegang kepada
amanat tersebut. Kepentingan rakyat, yang dirumuskan dengan
sangat baik oleh para pendiri negeri ini, melalui pembukaan UUD
1945, yaitu dengan rumusan ”masyarakat adil dan makmur”, jelas
menunjuk pada keharusan mencapai kesejahteraan bangsa. Per­
nah diperdebatkan, apakah peningkatan PNB (Produk National
Bruto), dapat dinilai sebagai upaya mencapai keadaan tersebut?
Sekarang jangankan berusaha ke arah itu, berdebat mengenai
apa yang dimaksud dengan kesejahteraan, keadilan dan kemak­
muran pun sudah tidak lagi kita lakukan.

Kehidupan kita yang kering­kerontang ini sekarang hanya
dipenuhi oleh kegiatan untuk mempertahankan kekuasaan, bu­
kannya untuk mencapai kepemimpinan yang diharapkan. Kekua­
saan disamakan dengan kepemimpinan, dan kekuasaan tidak
lagi mengindahkan aspek moral/etika­nya dalam kehidupan kita
sebagai bangsa. Pantaslah jika kita sekarang seolah­olah tidak
memiliki kepemimpinan, karena kita sudah kehilangan aspek
moral dan etika tersebut. Kepemimpinan kita saat ini, sebagai
bangsa, hanya dipenuhi oleh basa­basi (etiket) yang tidak mem­
berikan jaminan apa­apa kepada kita sebagai bangsa.

Agama Islam, yang dipeluk oleh mayoritas bangsa kita,
memiliki sebuah adagium yang sangat penting: ”Kebijakan dan
tindakan seorang pemimpin atas rakyat yang dipimpin, haruslah
terkait langsung dengan kesejahteraan mereka”  (Tasharruf al-
imâm ‘alâ ar-ra’iyyah manûtun bi al-maslahah) jelas menun­
juk  kewajiban sang pemimpin kepada rakyat yang dipimpinnya.
Benarkah kita saat ini memperjuangkan kesejahteraan dengan
sungguh­sungguh, kalau dilihat kelalaian para penguasa kita
dewasa ini? Tentu saja pertanyaan ini tidak akan ada yang men­
jawab sekarang, karena dalam kenyataan hal ini tidak dipikirkan
secara sungguh­sungguh oleh para penguasa kita. Tidak ada
usaha untuk mengkaji kembali sistem pemerintahan kita, mini­
mal mengenai orientasinya, hingga tidak heranlah jika langkah
bangsa ini sedang terseok­seok.

Umar bin Khattab pernah mengeluarkan sebuah statemen
populer: “Tiada Islam tanpa kelompok, tiada kelompok tanpa
kepemimpinan, dan tiada kepemimpinan tanpa ketundukan
(La islama illa bi jama’ah wala jama’ata illa bi imarah wala
imarata illa bi tha’ah),” jelas sekali menunjuk pada pentingnya
arti kepemimpinan dan sang pemimpin. Dengan demikian, kepe­mimpinan mempunyai arti yang sangat besar bagi sebuah bangsa.
Ketika para pemimpin kita bertikai mengenai kapan waktu yang
tepat bagi proklamasi kemerdekaan, ada yang merasakan sudah
waktunya hal itu dilaksanakan, dan ada pula yang merasa be­
lum waktunya, tetapi semuanya mengetahui bahwa proklamasi
harus dilakukan, hanya soal waktu saja yang dipersengketakan.
Ketika para pemuda menculik Soekarno ke Rengasdengklok, hal
itu menunjukkan bahwa mereka memiliki jiwa kepemimpinan
yang diperlukan, sedangkan Soekarno tidak mempersoalkan ke­
harusan proklamasi itu sendiri. Ia hanya mempersoalkan bila
proklamasi itu harus dilakukan. Dan akhirnya, semua sepakat,
bahwa hal itu harus dilakukan pada tanggal 17 Agustus 1945.
Bahwa krisis multidimensi yang kita hadapi sekarang ini,
memerlukan jawaban serba­bagai dari para penguasa pemerin­
tahan kita; dari menciptakan sistem politik baru yang mengacu
kepada etika dan moral, melalui kedaulatan hukum dan per­
lakuan yang sama bagi semua warga negara di depan undang­
undang, hingga pengembangan orientasi ekonomi yang tepat.
Pengamatan Syahrir bahwa kita tidak memiliki pemimpin, me­
lainkan hanya seorang penguasa belaka, tentu didasarkan pada
sebuah kenyataan, bahwa seorang pemimpin harus memiliki ke­
beranian moral, kemauan politik (political will) dan kejujuran un­
tuk mengutamakan kepentingan rakyat, bukannya kepentingan
sendiri ataupun kelompok. Karena kepemimpinan formal yang
seperti itu belum ada, pantaslah bila ada anggapan, kita tidak
memiliki pimpinan saat ini, melainkan hanya penguasa saja.

Tulisan ini disaduri dari buku Yang berjudul: “Islamku, Islam Anda, Islam Kita.”
karya KH.Abdurrahman Wahid.
Bab 5. Halaman: 231-234


Tidak ada komentar:

Posting Komentar