Bersabar Dan Memberi Maaf
Oleh Abdurrahman Wahid
Dalam kitab suci al-Qur’ân dinyatakan: “Demi masa, manu
sia selalu merugi, kecuali mereka yang beriman, beramal
shaleh, berpegang kepada kebenaran dan berpegang ke
pada kesabaran (Wa al-‘ashri inna al–insâna la fî khusrin illâ
al-
ladzîna ‘âmanû wa ‘amilu al-shâlihâti wa tawâshau bi
al-haqqi
wa tawâshau bi al-shabr)” QS al‘Ashr (103):13). Ayat
tersebut
mengharuskan kita senantiasa menyerukan kebenaran namun
tanpa kehilangan kesabaran. Dengan kata lain, kebenaran
baru
lah ada artinya, kalau kita juga memiliki kesabaran.
Kadangkala
kebenaran itu baru dapat ditegakkan secara bertahap, seperti
halnya demokrasi. Di sinilah rasa pentingnya arti kesabaran.
Demikian pula sikap pemaaf juga disebutkan sebagai tanda
kebaikan seorang muslim. Sebuah ayat menyatakan: “Apa yang
mengenai diri kalian dari (sekian banyak) musibah yang
menim
pa, (tidak lain merupakan) halhal berupa buah tangan kalian
sendiri. Dan (walaupun demikian) Allah memaafkan sebagian
(besar) halhal itu (mâ ashâbakum min mushîbatin fa bimâ ka-
sabat a’ydîkum wa ya’fû ‘an katsîrin)” (QS alSyura (42):30).
Firman Allah ini mengharuskan kita juga mudah memberikan
maaf kepada siapapun, sehingga sikap saling memaafkan adalah
sesuatu yang secara inherent menjadi sifat seorang muslim.
Ini
lah yang diambil mendiang Mahatma Gandhi sebagai muatan
dalam sikap hidupnya yang menolak kekerasan (ahimsa), yang
terkenal itu. Sikap inilah yang kemudian diambil oleh
mendiang
Pendeta Marthin Luther King Junior1
di Amerika Serikat,
dalam
tahuntahun 60an, ketika ia memperjuangkan hakhak sipil
(civil rights) di kawasan itu, yaitu agar warga kulit hitam
berhak
memilih dalam pemilu.
Hal ini membuktikan, kesabaran dalam membawakan kebe
naran adalah sifat utama yang dipuji oleh sejarah.
Sebagaimana
dituturkan oleh kisah perwayangan, para ksatria Pandawa yang
dengan sabar dibuang ke hutan untuk jangka waktu yang lama,
juga merupakan contoh sebuah kesabaran. Jadi, kesadaran akan
perlunya kesabaran itu, memang sudah sejak lama menjadi
sifat
manusia. Tanpa kesabaran, konflik yang terjadi akan dipenuhi
oleh kekerasan. Sesuatu yang merugikan manusia sendiri. Ke
kerasan tidak akan dipakai, kecuali dalam keadaan tertentu.
Hal
ini memang sering dilanggar oleh kaum muslimin sendiri. Su
dah waktunya kita kaum muslimin kembali kepada ayat di atas
dan mengambil kesabaran serta kesediaan memberi maaf, atas
segala kejadian yang menimpa diri kita sebagai hikmah.
Hiruk pikuk kehidupan, selalu penuh dengan godaan ke
pada kita untuk tidak bersikap sabar dan mudah memberikan
maaf. Dalam pandangan penulis, kedua hal tersebut seharus
nya selalu digunakan oleh kaum muslimin. Tetapi harus kita
akui dengan jujur, bahwa justru kesabaran itulah yang paling
sulit ditegakkan dan kalau kita tidak dapat bersabar
bagaima
na kita akan memberi maaf atas kesalahan orang kepada kita?
Jelas, bahwa antara keduanya terdapat hubungan timbal balik
yang sangat mendalam, walaupun tidak dapat dikatakan terjadi
hubungan kausalitas antara kesabaran dan kemampuan memaaf
kan kesalahan orang lain pada diri kita.
Kita sebagai seorang muslim, mau tidak mau harus menye
(1 Dr. Marthin Luther
King Jr. (19291968) adalah seorang pendeta di
Amerika Serikat yang terkenal dengan komitmen dan
perjuangannya terhadap
persamaan antar ras dan perbedaan kulit, hitam dan putih, di
negaranya. Ia
berhasil memimpin pendobrakan segregasi antar ras dan
perbedaan kulit di di
pabrikpabrik serta di kendaraan dan tempattempat umum di
AS yang mem
berikan inspirasi bagi persamaan umat manusia dan kebebasan
sipil di seluruh
dunia. Karena perjuangannya tersebut, ia mendapatkan Nobel
Perdamaian ta
hun 1964.)diakan keduanya sebagai pegangan hidup baik secara
kolek
tif maupun secara perorangan. Dari sinilah dapat dimengerti,
mengapa hikmah 1 Muharam 1424 Hijriyah ini sebaiknya tetap
ditekankan pada penciptaan kesabaran dan penumbuhan ke
mampuan untuk memberikan maaf kepada orang yang dalam
pandangan kita, berbuat salah kepada diri kita. Bukankah
kedua
ayat kitab suci yang dikemukakan di atas, sudah cukup kuat
da
lam mendorong kita membuat kesabaran dan kemampuan me
maafkan kesalahan orang kepada diri kita, sebagai hikmah
yang
kita petik di hari raya yang mulia tersebut. Kedengarannya
prin
sip yang sederhana, tetapi sulit dikembangkan dalam diri
kita.
Namun, lain halnya dengan para politisi yang berinisiatif
menyelenggarakan Sidang Istimewa yang terakhir, dengan dasar
“kebenaran” hasil penafsiran politik masingmasing. Tindakan
ini berarti melanggar Undangundang Dasar 1945, karena tidak
memiliki landasan hukum. Dengan “nafsu” politiknya –yaitu
Pre
siden harus lengser mereka pun meninggalkan jalan permusya
waratan. Padahal, semua persoalan yang melibatkan orang ba
nyak harus dipecahkan dengan negosiasi, seperti firman
Allah:
“dan persoalan mereka harus lah di musyawarahkan oleh mereka
sendiri (wa amruhum syûrâ bainahum)” (QS alSyura [42]:38).
Terlihat selain melanggar konstitusi, dalam hal ini
merekalah
yang tidak dapat memaafkan. Sederhana saja, walaupun rumit
dalam kehidupan politik kita sebagai bangsa dan negara.
Tulisan ini disaduri dari buku Yang berjudul: “Islamku,
Islam Anda, Islam Kita.”
karya KH.Abdurrahman Wahid.
Bab 5. Halaman: 228-230
Tidak ada komentar:
Posting Komentar