Senin, 05 Januari 2015

Bersabar Dan Memberi Maaf



Bersabar Dan Memberi Maaf
Oleh Abdurrahman Wahid

Dalam kitab suci al-Qur’ân dinyatakan: “Demi masa, manu­
sia selalu merugi, kecuali mereka yang beriman, beramal
shaleh, berpegang kepada kebenaran dan berpegang ke­
pada kesabaran (Wa al-‘ashri inna al–insâna la fî khusrin illâ al-
ladzîna ‘âmanû wa ‘amilu al-shâlihâti wa tawâshau bi al-haqqi
wa tawâshau bi al-shabr)” QS al­‘Ashr (103):1­3). Ayat tersebut
mengharuskan kita senantiasa menyerukan kebenaran namun
tanpa kehilangan kesabaran. Dengan kata lain, kebenaran baru­
lah ada artinya, kalau kita juga memiliki kesabaran. Kadangkala
kebenaran itu baru dapat ditegakkan secara bertahap, seperti
halnya demokrasi. Di sinilah rasa pentingnya arti kesabaran.

Demikian pula sikap pemaaf juga disebutkan sebagai tanda
kebaikan seorang muslim. Sebuah ayat menyatakan: “Apa yang
mengenai diri kalian dari (sekian banyak) musibah yang menim­
pa, (tidak lain merupakan) hal­hal berupa buah tangan kalian
sendiri. Dan (walaupun demikian) Allah memaafkan sebagian
(besar) hal­hal itu (mâ ashâbakum min mushîbatin fa bimâ ka-
sabat a’ydîkum wa ya’fû ‘an katsîrin)”  (QS al­Syura (42):30).
Firman Allah ini mengharuskan kita juga mudah memberikan
maaf kepada siapapun, sehingga sikap saling memaafkan adalah
sesuatu yang secara inherent menjadi sifat seorang muslim. Ini­
lah yang diambil mendiang Mahatma Gandhi sebagai muatan
dalam sikap hidupnya yang menolak kekerasan (ahimsa), yang
terkenal itu. Sikap inilah yang kemudian diambil oleh mendiang
Pendeta Marthin Luther King Junior1
 di Amerika Serikat, dalam
tahun­tahun 60­an, ketika ia memperjuangkan hak­hak sipil
(civil rights) di kawasan itu, yaitu agar warga kulit hitam berhak
memilih dalam pemilu.

Hal ini membuktikan, kesabaran dalam membawakan kebe­
naran adalah sifat utama yang dipuji oleh sejarah. Sebagaimana
dituturkan oleh kisah perwayangan, para ksatria Pandawa yang
dengan sabar dibuang ke hutan untuk jangka waktu yang lama,
juga merupakan contoh sebuah kesabaran. Jadi, kesadaran akan
perlunya kesabaran itu, memang sudah sejak lama menjadi sifat
manusia. Tanpa kesabaran, konflik yang terjadi akan dipenuhi
oleh kekerasan. Sesuatu yang merugikan manusia sendiri. Ke­
kerasan tidak akan dipakai, kecuali dalam keadaan tertentu. Hal
ini memang sering dilanggar oleh kaum muslimin sendiri. Su­
dah waktunya kita kaum muslimin kembali kepada ayat di atas
dan mengambil kesabaran serta kesediaan memberi maaf, atas
segala kejadian yang menimpa diri kita sebagai hikmah.

Hiruk pikuk kehidupan, selalu penuh dengan godaan ke­
pada kita untuk tidak bersikap sabar dan mudah memberikan
maaf. Dalam pandangan penulis, kedua hal tersebut seharus­
nya selalu digunakan oleh kaum muslimin. Tetapi harus kita
akui dengan jujur, bahwa justru kesabaran itulah yang paling
sulit ditegakkan dan kalau kita tidak dapat bersabar bagaima­
na kita akan memberi maaf atas kesalahan orang kepada kita?
Jelas, bahwa antara keduanya terdapat hubungan timbal balik
yang sangat mendalam, walaupun tidak dapat dikatakan terjadi
hubungan kausalitas antara kesabaran dan kemampuan memaaf­
kan kesalahan orang lain pada diri kita.
Kita sebagai seorang muslim, mau tidak mau harus menye­
(1  Dr. Marthin Luther King Jr. (1929­1968) adalah seorang pendeta di
Amerika Serikat yang terkenal dengan komitmen dan perjuangannya terhadap
persamaan antar ras dan perbedaan kulit, hitam dan putih, di negaranya. Ia
berhasil memimpin pendobrakan segregasi antar ras dan perbedaan kulit di di
pabrik­pabrik serta di kendaraan dan tempat­tempat umum di AS yang mem­
berikan inspirasi bagi persamaan umat manusia dan kebebasan sipil di seluruh
dunia. Karena perjuangannya tersebut, ia mendapatkan Nobel Perdamaian ta­
hun 1964.)diakan keduanya sebagai pegangan hidup baik secara kolek­
tif maupun secara perorangan. Dari sinilah dapat dimengerti,
mengapa hikmah 1 Muharam 1424 Hijriyah ini sebaiknya tetap
ditekankan pada penciptaan kesabaran dan penumbuhan ke­
mampuan untuk memberikan maaf kepada orang yang dalam
pandangan kita, berbuat salah kepada diri kita. Bukankah kedua
ayat kitab suci yang dikemukakan di atas, sudah cukup kuat da­
lam mendorong kita membuat kesabaran dan kemampuan me­
maafkan kesalahan orang kepada diri kita, sebagai hikmah yang
kita petik di hari raya yang mulia tersebut. Kedengarannya prin­
sip yang sederhana, tetapi sulit dikembangkan dalam diri kita.

Namun, lain halnya dengan para politisi yang berinisiatif
menyelenggarakan Sidang Istimewa yang terakhir, dengan dasar
“kebenaran” hasil penafsiran politik masing­masing. Tindakan
ini berarti melanggar Undang­undang Dasar 1945, karena tidak
memiliki landasan hukum. Dengan “nafsu” politiknya –yaitu Pre­
siden harus lengser­ mereka pun meninggalkan jalan permusya­
waratan. Padahal, semua persoalan yang melibatkan orang ba­
nyak harus dipecahkan dengan negosiasi, seperti firman Allah:
“dan persoalan mereka harus lah di musyawarahkan oleh mereka
sendiri (wa amruhum syûrâ bainahum)” (QS al­Syura [42]:38).
Terlihat selain melanggar konstitusi, dalam hal ini merekalah
yang tidak dapat memaafkan. Sederhana saja, walaupun rumit
dalam kehidupan politik kita sebagai bangsa dan negara.

Tulisan ini disaduri dari buku Yang berjudul: “Islamku, Islam Anda, Islam Kita.”
karya KH.Abdurrahman Wahid.
Bab 5. Halaman: 228-230

Tidak ada komentar:

Posting Komentar