Dicari: Keunggulan Budaya
Oleh: Abdurrahman Wahid
Ada sebuah prinsip yang selalu
dikumandangkan oleh mereka yang meneriakkan kebesaran Islam: “Islam itu unggul,
dan tidak dapat diungguli“ (Al-Islam Ya’iu wala Yu’la Alahi). Dengan
pemahaman mereka sendiri, lalu mereka menolak apa yang dianggap sebagai
“kekerdilan” Islam dan kejayaan orang lain. Mereka lalu menolak
peradaban-peradaban lain dan menyerukan sikap “mengunggulkan “ Islam secara
doktriner. Pendekatan doktriner seperti itu berarti pemujaan Islam terhadap
“keunggulan” teknis peradaban-peradaban lain. Dari sinilah lahir semacam klaim
kebesaran Islam dan kerendahan peradaban lain, karena memandang Islam secara
berlebihan dan memandang peradaban lain lebih rendah.
Dari “keangkuhan budaya” seperti
itu, lahirlah sikap otoriter yang hanya membenarkan diri sendiri dan menggangap
orang atau peradaban lain sebagai yang bersalah atas kemunduran peradaban lain.
Akibat dari pandangan itu, segala macam cara dapat dipergunakan kaum muslim
untuk mempertahankan keunggulan Islam. Kemudian lahir semacam sikap yang
melihat kekerasaan sebagai satu-satunya cara “mempertahankan Islam”. Dan
lahirlah terorisme dan sikap radikal demi “kepentingan” Islam.
Mereka tidak mengenal ketentuan
hukum Islam/ Fi’qh, bahwa orang Islam diperkenankan menggunakan kekerasan hanya
jika diusir dari kediaman mereka (Idza ukhriju min diyarihim). Selain
alasan tersebut itu tidak diperkenankan menggunakan kekerasan terhadap siapa
pun, walau atas dasar keunggulan pandangan Islam. Sesuai dengan ungkapan di
atas maka jelas mereka salah memahami Islam, yang dipahami bahwa kaum Muslimin
diperkenankan menggunakan kekerasan atas kaum lain. Inilah yang dimaksudkan
oleh kitab suci Al-Quran dengan ungkapan “Tiap kelompok bersikap bangga atas
milik sendiri” (Kullu hizbin bima ladaihim farihun). Kalau sikap itu
dicerca oleh Al-Quran sendiri, berarti juga dicerca oleh Rasul-Nya.
*****
Jelaslah sikap Islam dalam hal ini,
tidak menggangap rendah peradaban orang lain. Bahkan Islam mengajukan untuk
mencari keunggulan dari orang lain sebagai bagian dari pengembangannya. Untuk
mencapai keunggulan itu Nabi bersabda ”carilah Ilmu hingga ke tanah Tiongkok“ (Utlubu
al-ilma walau fi al-shin), bukankah hingga saat ini pun ilmu-ilmu kajian
keagamaan Islam telah berkembang luas di kawasan tersebut? Dengan demikian,
Nabi mengharuskan kita mencarinya ke mana-mana. Ini berarti kita tidak boleh
apriori terhadap siapa pun, karena ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang
terdapat di mana-mana. Bahkan teknologi maju adalah hasil ikutan (spend off)
dari teknologi ruang angkasa yang dirintis dan dibuat di bumi ini. Dengan
demikian, teknologi antariksa juga menghasilkan hal-hal yang berguna bagi
kehidupan kita sehari-hari. Pengertian “longgar” seperi inilah yang dikehendaki
kitab suci Al-Quran dan Al-Hadist.
Lalu adakah “kelebihan teknis”
orang-orang lain atas kaum Muslimin dapat dianggap sebagai “kekalahan” umat
Islam? Tidak, karena awal perbuatan kaum muslimin yang ikhlas kepada agama
mereka memiliki sebuah nilai lebih dalam pandangan Islam. Hal itu dinyatakan
sendiri oleh Al-Quran: “Dan orang yang menjadikan selain Islam sebagai agama,
tak akan diterima amal perbuatannya di akhirat. Dan ia adalah orang yang merugi
“ (Wa man yabtaghi qhaira Al-Islam dinan falan yuqbala minhu wa huwa fi
al-akhirati min al-khasirin). Dari kitab suci ini dapat diartikan Allah
tidak akan menerima amal perbuatan seseorang non-Muslim, tetapi di dalam
kehidupan sehari-hari kita tidak boleh memandang rendah kerja siapa pun.
Sebenamya pengertian kata “diterima
di akhirat” berkaitan dengan keyakinan agama dan dengan demikian memiliki
kualitas tersendiri. Sedangkan pada tataran duniawi perbuatan itu tidak
tersangkut dengan keyakinan agama, melainkan “secara teknis” membawa manfaat
bagi manusia lain. Jadi manfaat “secara teknis” dari setiap perbuatan
dilepaskan oleh Islam dari keyakinan agama dan sesuatu yang “secara teknis”
memiliki kegunaan bagi manusia diakui oleh Islam. Namun, dimensi “penerimaan”
dari sudut keyakinan agama memiliki nilainya sendiri. Peng-Islamnya perbuatan
kita justru tidak tergantung dari nilai “perbuatan teknis” semata, karena
antara dunia dan akhirat memiliki dua dimensi yang berbeda satu dari yang lain.
*****
Dengan demikian, jelas peradaban
Islam memiliki keunggulan budaya dari sudut pengelihatan Islam sendiri, karena
ada kaitannya dengan keyakinan keagamaan. Kita diharuskan mengembangkan dua
sikap hidup yang berlainan. Di satu pihak, kaum muslimin harus mengusahakan
agar supaya Islam- -sebagai agama langit yang terakhir— tidak tertinggal,
minimal secara teoritik. Tetapi di pihak lain kaum Muslimin diingatkan untuk
melihat juga dimensi keyakinan agama dalam menilai hasil budaya sendiri. Dengan
demikian keunggulan atau ketertinggalan budaya Islam tidak terkait dengan
penguasaan “kekuatan politis”, melainkan dari kemampuan budaya sebuah
masyarakat Muslim untuk memelihara kekuatan pendorong ke arah kemajuan,
teknologi, dan ilmu pengetahuan.
Dengan demikian, kita tidak perlu
berkecil hati melihat “kelebihan” orang lain, karena hal itu hanya akibat
belaka dari kemampuan budaya untuk mendorong munculnya hal-hal yang bersifat
“teknis” seperti dikemukakan di atas. Ini juga berarti penolakan Islam atas
tindak kekerasan untuk mengejar ketertinggalan “teknis” tadi. Walaupun kita
menggunakan kekerasan berlipat-lipat kalau memang secara budaya kita tidak
memiliki pendorong ke arah kemajuan, kaum Muslimin akan tetap tertinggal di
bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Di sinilah letak penting dari apa yang
oleh Samuel Hutington di sebut sebagai “pembenturan budaya” (clash of
civilizations)” perbenturan ini secara positif harus dilihat sebagai
perlombaan antar budaya, jadi bukanlah sesuatu yang harus dihindari.
*****
Beberapa tahun lalu penulis diminta
oleh Yomiuri Shinbun, harian berbahasa Jepang terbitan Tokyo dan terbesar di
dunia dengan oplah 11 juta lembar tiap hari, untuk berdiskusi dengan Profesor
Huntington, bersama-sama dengan Chan Heng Chee (dulu Direktur Lembaga Kajian
Asia-Tenggara di Singapura dan sekarang Dubes negeri itu untuk Amerika Serikat)
dan Profesor Aoki dari Universitas Osaka. Dalam diskusi di Tokyo itu, penulis
menyatakan kenyataan yang terjadi justru bertentangan dengan teori perbenturan
budaya yang dikemukakan Huntington. Justru sebaliknya ratusan ribu warga
Muslimin dari seluruh dunia belajar ilmu pengetahuan dan teknologi di
negeri-negeri barat tiap tahunnya, yang berarti di kedua bidang itu kaum Muslim
saat ini tengah mengadopsi (mengambil) dari budaya barat.
Nah, keyakinan agama Islam mengarahkan mereka agar menggunakan
ilmu pengetahuan dan teknologi, yang mereka kembangkan dari negeri-negeri barat
untuk kepentingan kemanusiaan, bukannya untuk kepentingan diri sendiri. Pada
waktunya nanti, sikap ini akan melahirkan kelebihan budaya Islam yang mungkin
tidak dimiliki orang lain, ”kebudayaan yang tetap berorientasi melestarikan
perikemanusiaan, dan tetap melanjutkan misi kemajuan Ilmu Pengetahuan dan
teknologi”. Kalau perlu harus kita tambahkan pelestarian akhlak yang sekarang
merupakan kesulitan terbesar yang dihadapi umat manusia di masa depan, seperti
terbukti dengan penyebaran AIDS di seluruh dunia (termasuk di negeri-negeri
Muslim). Mudah dikatakan tapi sulit dilaksanakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar